Senin, 22 Oktober 2012

HENTIKAN MEROKOK DEMI BAYI SEHAT


MAKALAH
 PENGARUH KETERPAPARAN ASAP ROKOK PADA IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH


 
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulisan makalah ini dapat terselesaikan dengan judul “PENGARUH KETERPAPARAN ASAP ROKOK PADA IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH”.
Penulisan makalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah komunikasi kesehatan fakultas ilmu kesehatan masyaarakat universitas muhammadiyah parepare. Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini dan penyempurrnahan penulisan makalah selanjutnya.
Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.



 Parepare, 26 april 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Salah satu penyebab bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di berbagai Negara berkembang menurut WHO (work health organization) 2004 adalah kebiasaan merokok. Tahun 2002 indonesia menduduki peringkat ke lima di dunia dalam konsumsi rokok. Peringkat tertinggi adalah cina dengan konsumsi rokok 1,643 milyar batang, amerika serikat 451 meliyar batang, jepang 328 milyar batang, rusia 258 milyar batang dan Indonesia 215 milyar batang (aditama 2003), yang menyebabkan angka kelahiran bayi BBLR di Indonesia pertahun akan lebih berat.
Di Indonesia, berdasarkan survey degeneratife dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, angka kematian neonatal sebesar 20/1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun, sekitar 89000 bayi usia 1 bulan meninggal. Artinya setiap 6 menit ada 1 neonatus meninggal. Penyebab utama kematian neonatal adalah BBLR yaitu sebanyak 29%. Insiden bayi BBLR di rumah sakit Indonesia berkisar 20%. Di profensi jawa timur, BBLR masih menjadi penyebab kematian neonatal tertinggi pada tahun 2001 sebebsar 36,23% dan 2002 sebeasar 34,72 %.
Di Indonesia, 92% perokok biasanya merokok di rumah saat bersama anggota keluarga lainnya. Dan anggota keluarga yang tidak merokok tapi ikut terpapar oleh asap rokok tersebut menjadi jauh lebih rendah kesehatannya (kompas 2004). Berdasarkan peneliatian wanita merokok lebih dari 20 batang sehari melahirkan bayi dengan berat badan kurang tapi ternyata bukan hanya para ibu hamil yang perokok tetapi ibu hamil yang tidak merokok juga dapat terjadi bila sehari hari selalu berada di tengah tengah perokok dan selalu terpapar asap rokok (perokok pasif) bisa memngalami efek negatif yang hampir sama tingkatannya dengan perokok. Jadi bila suami atau setiap orang yang tinggal di rumah ibu hamil merokok , tubuh bayi akan mendapat pengotoran oleh asap tembakan hampir sebanyak pengotoran yang ia dapat jika ibunya sendiri yang menghisapnya. Bahkan menurut canra (2000) bahan kimia yang keluar dari asap bakaran ujung rokok kadarnya lebih tinggi dari pada yang di hisap perokoknya. Semakin dekat jarak perokok dengan perokok pasif akan semakin besara pengaruhnya karena itu penelitian banyak di lakukan pada istri perokok.
B.      RUMUS MASALAH
1.       Apakah ada pengaruh keterpaparan asap rokok pada ibu hamil terhadap kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR)?
2.       Seberapa besar pengaruh keterpaparan asap rokok pada ibu hamil terhadap kejadian bayi berat badar rendah?
C.      TUJUAN
1.       Untuk menunjukkan adanya pengaruh keterpaparan asap rokok pada ibu hamil terhadap kejadian BBLR
2.       Untuk menunjukkan besarnya pengaruh keterpaparan asap rokok pada ibu hamil terhadap kejadian BBLR.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian bayi BBLR
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2.500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram disebut Low Birth Weight Infants (BBLR) (Yushananta,2001).
Berdasarkan kurva pertumbuhan intrauterin dari Lubchenko, maka kebanyakan bayi prematur akan dilahirkan dengan berat badan yang rendah (BBLR).
BBLR dapat di bagi atas dua golongan:
1.       Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) yaitu dengan berat badan lahir 1000-1500 gr.
2.       Berat badan lahir amat sangan kurang (BBLASR) yaitu dengan berat badan lahir kurang dari 1000 gr.
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (premature) di samping itu juga di bsebabkan di smaturitas , artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan lahirnya lebih kecil di bandingkan masa kehamilan yaitu tidak mencapai 2500 gr.
Ciri ciri BBLR
Bayi yang lahir dengan berat badan kurang memiliki ceri ciri sebagai berikut:
1.       Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu.
2.       Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gr.
3.       Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkaran kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan atau kuranga dari 30 cm.
4.       Rambut lanugo masih banyak
5.       Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
6.       Tulang rawan daun telinga belum sempurnah pertumbuhannya
7.       Fungsi saraf  yang belum atau tidak efektif dan tangisan lemah
B.      Factor penyabab lahirnya bayi BBLR
Penyebab terjadinya BBLR scara  umum bersifat multifaktorial, sehingga kadang mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan pencegahan. Berikut yang berhubungan dengan penyebab lahirnya bayi BBLR secara umum, yaitu:
a.       Faktor ibu
Faktor ibu yang di maksud adalah umur, paritas, Selain itu juga dapat berupa:
·         Penyakit : Seperti malaria, anemia, spilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
·         Komplikasi pada kehamilan : Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterum. Kepala pusing hebat,Kaki bengkak, Perdarahan pada waktu hamil, Keluar air ketuban pada waktu hamil, Batuk-batuk lama.
·         Usia Ibu dan paritas : Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia < 20 tahun, Jarak kelahiran anak kurang dari 2 tahun.
·         Faktor kebiasaan ibu : Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika juga ibu yang selalu terpapar oleh asap rokok (perokok pasif)
b.      Faktor janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
c.       Factor lingkungan
Pengaruh linkungan seperti lingkungan rumah para perokok berat.
Pada bayi BBLR banyak sekali resiko terjadi permasalahan pada system tubuh karena kondisi tubub yang tidak stabil. Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar di bandingkan bayi normal. Akan lebih buruk bila berat badan semakin rendah. Masalah jangka pendek yang sering terjadi pada BBLR adalah:
Gangguan metabolic
a.       Hipotermia
Hipotermia terjadi karena sedikitnya lemak tubuh dan system pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum matang. Bayi BBLR yang  mengalami hipotermia memiliki ciri ciri khusus, antara lain suhu tubuh di bawah 32® c, sering mengantuk dan sukar di bangunkan, suara tangisan sangat lemah, seluruh tubuh dingin, pernafasan lambat dan tidak teratur dan tidak mau menetek sehingga mengakibatkan dehidrasi.
b.      Hipolikemia
Gula darah berfungsi sebagai makanan otak dan membawa oksigen ke otak. Jika asupan glukosa ini kurang, akibatnya sel-sel syaraf di otak mati dan mempengaruhi kecerdasan bayi kelak.bayi BBLR membutuhkan ASI sesegera mungkin setelah lahir dan minum setia 2 jam pada minggu pertama.
c.       Masalah pembebrian ASI
Masalah pembebrian ASI pada bayi BBLR terjadi karena ukuran tubuh bayi yang kecil, kurang energy, lemah, lambung kecil dan tidak dapat mengisap. Bayi BBLR sering mendapatkan ASI dengan bantuan, membutuhkan ASI dalam jumlah sedikit tetapi sering.
Gangguan imunitas
a.       Gangguan imunologik
Daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena system kekebalan tubuh bayi BBLR belum matang. Bayi dapat terkena infeksi saat di jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui infeksi ibu melalui plasenta.
b.      Kejang saat di lahirkan
c.       Ikterus (kadar bilirubin yang tinggi)
Ikterus adalah menjadi kuningnya warna kulit, selaput leher, dan berbagai jaringan oleh zat warna empedu. Ikterus neonatal adalah suatu gejalah yang sering di temukan pada bayi baru lahir.
Gangguan pernafasan
Gangguan pernafasan pada bayi BBLR adalah perkembangan imatur pada system pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan pada paru-paru.
Gangguan pada system peredaran darah
a.       Masalah perdarahan
Perdarahan pada neonatus dapat di sebabkan karena kekurangan factor pembekuan darah dan factor fungsi pembekuan darah abnormal atau menurun. Sebagai tindakan pencegahan atau terhadap perdarahan otak dan saluran cerna pada bayi BBLR, di berikan injeksi vitamin K yang berperan penting untuk mempertahankan mekanisme pembekuan dalam darah.
b.      Anemia
Anemia fisiologik pada bayi BBLR di sebabkan karena persediaan zat besi janin yang sedikit serta bertambahnya volume darah sebagai akibat pertumbuhan yang relative cepat.
c.       Gangguan jantung
d.      Gangguan otak
Gangguan pada otang antara lain perdarahan pada otak atau kerusakan atau pelunakan materi otak bagian dalam yang mentransmisikan informasi antar sel-sel saraf dan sum-sum tulang belakang.
Selain masalah jangka pendek bayi BBLR juga mempunyai masalah jangk panjang,antaraa lain masalah masalah psikis seperti gangguan perkembangan dan pertumbuhan, gangguan bicara dan komunikasi, dan masalah pendidikan. Sedangkan masalah lainnya adalah masalah fisik seperti penyakit paru kronis, penyakit gangguan penglihatan dan pendengaran dan kelainan bawaan.

C.      TINJAUAN TENTANG KETERPAPARAN ASAP ROKOK PADA IBU HAMIL
Merokok merupakan salah satu kebiasaan lazim yang di temui dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup ini menarik sebagai salah satu masalah kesehatan, minimal di anggap sebagai factor resiko dari berbagai jenis penyakit (bustan 2002). Dari sisi kesehatan bahaya rokok sudah tidak terbantahkan lagi. Rokok mengandung sekitar 4000 Zat kimia. Zat kimia yang dikandun ini terdiri dari komponen gas (85 persen) dan partikel. Nikotin, gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, akrolein, asetilen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, kumarin, 4-etilkatekol, ortokresol dan perylene adalah sebagian dari beribu-ribu zat di dalam rokok. Selain itu juga terdapat Komponen gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida dan formaldehid. Partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbarzol dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan menimbulkan kanker (karsinogen). Zat zat tersebut adalah :
(1)    Nikotin.
 Zat yang paling sering dibicarakan dan diteliti orang, meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi dan menyebabkan ketagihan dan ketergantungan pada pemakainya. Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan.
(2)    Timah hitam (Pb)
Timah hitam  yang dihasilkan sebatang rokok sebanyak 0,5 ug. Sebungkung rokok (isi 20 batang) yang habis diisap dalam satu hari menghasilkan 10 ug. Sementara ambang batas timah hitam yang masuk ke dalam tubuh adalah 20 ug per hari. Bisa dibayangkan bila seorang perokok berat menghisap rata-rata 2 bungkus rokok per hari, berapa banyak zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuh.
(3)    Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah 129oC. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas buangan. Kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam uadara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain. Secara umum terbentuk gas CO adalah melalui proses berikut ini :
Ø  Pertama, pembakaran bahan bakar fosil.
Ø  Kedua, pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan gas CO.
Ø  Ketiga, pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.
Penyebaran gas CO diudara tergantung pada keadaan lingkungan. Untuk daerah perkotaan yang banyak kegiatan industrinya dan lalu lintasnya padat, udaranya sudah banyak tercemar oleh gas CO. Sedangkan daerah pinggiran kota atau desa, cemaran CO diudara relatif sedikit. Ternyata tanah yang masih terbuka dimana belum ada bangunan diatasnya, dapat membantu penyerapan gas CO. Hal ini disebabkan mikroorganisme yang ada didalam tanah mampu menyerap gas CO yang terdapat diudara. Angin dapat mengurangi konsentrasi gas CO pada suatu tempat karena perpindahan ke tempat lain.
Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 -> O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO -> COHb (karboksihemoglobin)
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman jika waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok maupun perokok pasif akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi didalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok dan perokok pasif jadi meningkat. Keadaan ini sudah barang tentu sangat membahayakan kesehatan orang  yang merokok maupun perokok pasif. Orang yang merokok/perokok pasif dalam waktu yang cukup lama (perokok berat/ perokok pasif) konsentrasi COHb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.
Pengaruh konsentrasi gas CO di udara sampai dengan 100 ppm terhadap tanaman hampir tidak ada, khususnya pada tanaman tingkat tinggi. Bila konsentrasi gas CO di udara mencapai 2000 ppm dan waktu kontak lebih dari 24 jam, maka akan mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas yang ada pada lingkungan terutama yang terdapat pada akar tanaman.
Penurunan kesadaran sehingga terjadi banyak kecelakaan, fungsi sistem kontrol syaraf turun serta fungsi jantung dan paru-paru menurun bahkan dapat menyebabkan kematian. Waktu tinggal CO dalam atmosfer lebih kurang 4 bulan. CO dapat dioksidasi menjadi CO2 dalam atmosfer adalah HO dan HO2 radikal, atau oksigen dan ozon. Mikroorganisme tanah merupakan bahan yang dapat menghilangkan CO dari atmosfer.
Dari penelitian diketahui bahwa udara yang mengandung CO sebesar 120 ppm dapat dihilangkan selama 3 jam dengan cara mengontakkan dengan 2,8 kg tanah (Human, 1971), dengan demikian mikroorganisme dapat pula menghilangkan senyawa CO dari lingkungan, sejauh ini yang berperan aktif adalah jamur penicillium dan Aspergillus.
Bahaya  Ibu Hamil yang terkena Asap Rokok sangatlah perlu kita perhatikan, Banyak perempuan hamil yang tidak merokok tapi terkena dampaknya akibat sering terpapar oleh asap rokok dari sekitarnya. Padahal ada banyak bahaya yang terjadi jika ibu hamil kena asap rokok. Ibu hamil yang terpapar asap rokok baik dari rekan kerja, lingkungan atau anggota keluarganya bisa menimbulkan risiko tertentu yang sangat fatal sekali. Kondisi ibu hamil yang terkena asap rokok tanpa disadari sebenarnya berpengaruh jelek terhadap kehamilan dan Janin yang dikandungnya. Senyawa kimia yang terdapat di dalam rokok bisa masuk ke dalam tubuh ibu hamil dan meracuni janin yang dikandung si ibu hamil tersebut.
Dalam studi yang dilaporkan pada American Association for Cancer Research di Washington menuturkan bahwa senyawa yang masuk tersebut bisa menyebabkan kerusakan genetik yang nantinya bisa menjadi awal bagi penyakit leukimia atau kanker lain pada sang Bayi.
Peneliti dari University of Louisville menganalisis bahwa ada 3 karsinogen (senyawa pemicu kanker) dari tembakau yang bisa masuk ke dalam tubuh ibu dan bayinya, yaitu benzo(a)pyrene, 4-aminobiphenil dan akrilonitril.
Selain bisa menyebabkan kanker, ibu hamil yang terpapar asap rokok juga bisa menimbulkan bahaya lain, seperti Asap rokok bisa menyebabkan kematian dini (premature death) pada bayi yang sedang dikandung dan menimbulkan penyakit ketika bayi tersebut lahir, selain itu terpaparnya asap rokok oleh ibu hamil dapat melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
Si Ibu Berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) karena racun dalam rokok bisa menghambat aliran darah yang merupakan sumber nutrisi bagi bayi
Asap rokok bisa meningkatkan resiko bayi meninggal akibat mengalami SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar asap rokok
Meningkatkan risiko bayi terkena bronkitis, pneumonia, infeksi telinga dan memperlambat pertumbuhan paru-paru
Bagi wanita hamil, tidak cukup hanya berhenti merokok. Untuk melindungi pertumbuhan janin, seluruh anggota keluarga juga harus berhenti merokok dan calon ibu sebaiknya menghindari kontak dengan siapapun yang merokok.
Data yang dihimpun selama tiga tahun terakhir oleh Stephen G.Grant, menunjukkan bahwa wanita yang menjadi perokok pasif melahirkan bayi yang mengalami mutasi genetik, sama halnya dengan wanita perokok. Studi tersebut membandingkan tingkat mutasi gen pada bayi yang baru lahir dari ibu yang perokok, berhenti merokok selama kehamilan, tinggal atau bekerja di lingkungan perokok atau sama sekali tidak kontak dengan perokok. Jadi jika Anda merencakan kehamilan, rencanakan juga untuk menghindari para perokok.

                Bahaya merokok ini tidak hanya di sebabkan oleh wanita yang merokok secara aktif tapi juga di sebabkan oleh wanita merokok secara pasif dalam artian bahwa wanita hamil menghisap asap rokok dari lingkungan baik di rumah, tempat kerja maupun tempat-tempat umum. Penelitian membuktikan bahwa ibu hamil yang sering terpapar oleh asap rokok dari suaminya berisiko lima kali lebih besar melahirkan bayi BBLR di bandingkan ibu hamil yang suaminya tidak merokok. Ibu hamil yang terpapar oleh asap rokok dari suaminya menyebabkan ibu dan janin kekurangan oksigendan akhirnya perkembangan janin akan terhambat. Akibat terhambatnya perkembangan janin menyebabkaan terjadinya persalinan dengan berat badan lahir rendah. Terpaparnya asap rokok ibu hamil juga menyebabkan berat badan bayi menurun rata-rata 200 gr  terhadap bayi.
Asap rokok selama hamil bisa menyebabkan perubahan dalam struktur DNA bayi yang nantinya dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh si Bayi, Mengganggu pertumbuhan otak janin selama di dalam kandungan, serta berisiko mengalami keterbelakangan mental.
Sering terpapar asap rokok bisa membuat bayi lahir prematur yang umumnya memiliki:
·         perkembangan organ tubuh yang belum sempurna
·         Meningkatkan resiko bayi yang dikandung memiliki asma
·         Meningkatkan risiko bayi lahir cacat seperti bibir sumbing akibat adanya kelainan pada sperma sang ayah yang perokok.
·         Pengaruh asap rokok bisa menyebabkan bayi mengalami penyakit jantung bawaan hingga keguguran.
                Untuk mencegah hal tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik keluarga, para Suami, teman-teman kerja dan orang-orang disekitar ibu hamil untuk tidak merokok. Serta membuat peraturan yang lebih jelas mengenai tempat tempat mana saja yang boleh dan tidak boleh merokok.
BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
1.       Ibu hamil yang terpapar asap rokok (perokok pasif) baik dari rekan kerja, lingkungan atau anggota keluarganya bisa menimbulkan risiko tertentu yang sangat fatal sekali. Kondisi ibu hamil yang terkena asap rokok tanpa disadari sebenarnya berpengaruh jelek terhadap kehamilan dan Janin yang dikandungnya. Senyawa kimia yang terdapat di dalam rokok bisa masuk ke dalam tubuh ibu hamil dan meracuni janin yang dikandung si ibu hamil tersebut.
2.       Senyawa-senyawa yang terkandung dalam asap rokok kemudian terhirup oleh ibu hamil, dapat menyebabkan kerusakan genetik yang nantinya bisa menjadi awal bagi penyakit leukimia atau kanker lain pada sang Baby,  juga bisa menimbulkan bahaya lain, seperti Asap rokok bisa menyebabkan kematian dini (premature death) pada bayi yang sedang dikandung dan menimbulkan penyakit ketika bayi tersebut lahir, selain itu terpaparnya asap rokok oleh ibu hamil dapat melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR), karena racun dalam rokok bisa menghambat aliran darah yang merupakan sumber nutrisi bagi bayi. Asap rokok bisa meningkatkan resiko bayi meninggal akibat mengalami SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar asap rokok, Meningkatkan risiko bayi terkena bronkitis, pneumonia, infeksi telinga dan memperlambat pertumbuhan paru-paru.
Saran
1.       Untuk mencegah lahirnya bayi berat badan lahir rendah diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik keluarga, para Suami, teman-teman kerja dan orang-orang disekitar ibu hamil untuk tidak merokok. Serta membuat peraturan yang lebih jelas mengenai tempat tempat mana saja yang boleh dan tidak boleh merokok.
2.       mencegah lebih baik dari pad
DAFTAR PUSTAKA
Martini.2011.bayi dan rokok.perepare:universitas muhammadiyah parepare
http://www.kelahiran bayi berat badan lahir rendah.blogspot.2009
sarwono.2005.bayi BBLR karena pengaruh rokok.bandung:jaya paper.

Tidak ada komentar: